Buku ini mengupas makna kerugian dari sudut pandang Islam yang berbeda dengan standar manusia pada umumnya. Jika dunia menilai keberuntungan dari kekayaan, jabatan, dan kesuksesan lahiriah, maka Al-Qur’an dan Sunnah justru menegaskan bahwa kerugian sejati adalah ketika amal manusia sia-sia di hadapan Allah. Melalui tafsir QS. al-Kahfi ayat 103–106, penulis menjelaskan bahwa banyak orang merasa telah berbuat kebaikan, namun ternyata amal mereka gugur karena kekufuran, kesyirikan, bid‘ah, atau tidak mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.
Buku ini juga menguraikan bahwa kerugian hakiki adalah kerugian di akhirat, karena kehidupan akhirat bersifat kekal. Penulis memaparkan berbagai golongan yang tergolong merugi, termasuk orang kafir, musyrik, munafik, ahli bid‘ah, pemimpin zalim, orang kaya yang bakhil, serta kaum muslimin yang menzalimi sesama manusia. Dengan landasan ayat Al-Qur’an, hadits shahih, dan penjelasan para ulama salaf, ditegaskan bahwa banyak amal lahiriah dapat hancur akibat rusaknya akidah, niat, dan muamalah.
Secara keseluruhan, buku ini merupakan nasihat tauhid dan muhasabah yang mendalam, mengingatkan bahwa keberuntungan sejati hanya diraih dengan keikhlasan, ittiba’ kepada sunnah Nabi ﷺ, serta menjaga hak Allah dan hak sesama manusia. Buku ini sangat relevan bagi siapa pun—terutama para pelaku usaha dan pemimpin—agar tidak tertipu oleh gemerlap dunia, namun selamat dan beruntung di dunia sekaligus di akhirat.
Pengusaha yang Rugi Dunia dan Akhirat
| Penulis | : Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc. |
|---|---|
| Tanggal Terbit | : 21 April 2026 |
| Rubrik | : Tafsir |
| Lampiran | : Buka / Unduh PDF |
Bacaan Terkait
Eksplorasi lebih lanjut tentang topik serupa